JUGUN IANFU
Jugun ianfu adalah istilah Jepang dari budak seks yang ditipu, diculik, diperkosa, dan kemudian dipaksa menjadi pelayan nafsu tentara Jepang di masa penjajahan. Hal tersebut terungkap ketika Mbah Mardiyem memberi kesaksian di hadapan Mahkamah Internasional di Jepang (Pengadilan Kudan Kaikan, Tokyo) beberapa waktu lalu.
Ada fenomena baru yang muncul, ketika sebuah mode menggejala di Indonesia, yaitu sebuah mode baju ketat. Fenomena itu adalah penomena yang disebut “pelacuran diri” secara massal. Dikatakan melacur kerena ia menjadikan bagian dari tubuhnya bisa dinikmati siapa pun. Mungkin terlalu kasar istilah “pelacuran diri”, tapi itulah yang terjadi secara sadar atau pun tidak.
Kalau kita bisa sangat bersimpati kepada Mbah Mardiyem, maka akan sangat sulit bagi kita untuk memaklumi yang terjadi saat ini, ketika aurat sudah tidak berharga lagi. Ia ibarat jajanan pasar yang terbuka yang bisa dilihat siapa pun, bahkan bisa dipegang-pegang dan dijamah siapa pun. Yang bisa dicicipi dulu maupun tidak jadi membeli. Bahkan terkadang jajanan itu menjadi tempat berhinggap lalat-lalat.
Mbah Mardiyem dan cewek-cewek tersebut jelas berbeda, walaupun ada kesamaan. Kesamaannya adalah mereka sama-sama dipaksa. Yang satu dipaksa melacur setelah diculik dan diperkosa, sedangkan yang satu lagi dipaksa “melacur” setelah dicekoki pemikirannya, diracuni budayanya, dan dirusak susilanya melalui TV, radio, VCD, koran, dan semua persenjataan penghancur kebudayaan yang lain. Mereka dibuat sangat malu bila tidak mau mengikuti mode tersebut.
Naudzubillahi min dzaalik…
Biarlah orang mengukur kelebihan seorang wanita bukan dari penampilan fisik semata, melainkan dari pancaran akhlaq, kecerdasan, keanggunan, dan inner beauty yang lain.
Sumber : DKM At Thoyyibah

0 Comments:
Post a Comment
<< Home